Catatan : Heru Connect
Desa Onepute Jaya, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang mayoritas penduduknya berasal dari transmigrasi pulau jawa, Sawah yang menjadi penggerak ekonomi dan mata pencaharian utama didesa itu, kini mulai hilang. Lenyap tergerus air yang keruh dan mengandung lumpur akibat ulah perusahaan pertambangan yang mencemari saluran irigasi pertanian didesa tersebut.
Ya, perusahaan itu disinyalir kuat bernama CV.Tridaya Jaya,perusahaan pertambangan yang berasal dari Makassar,Sulawesi Selatan, kini menjadi momok yang menakutkan seperti drakula sosok “setan” modern yang tenar di negeri paman sam, Amerika Serikat itu, memiliki sepasang taring tajam sebagai senjata penghisap darah yang mematikan. Keganasannya nyaris membuat ratusan hektar sawah di desa Oneputejaya terancam gagal panen. Sebab,irigasi satu-satunya yang mengairi desa Oneputejaya sudah tercemari,keruh berwarna kuning tua keemasan dan mengandung lumpur serta zat-zat yang tidak bisa diserap oleh tanaman padi.
Memang perlu pembuktian secara ilmiah,terhadap kandungan zat-zat yang mencemari sawah itu, diperlukan tim ahli untuk mendeteksi kadar air, apakah mengandung unsure nikel,besi dan aluminium serta unsure lainnya yang tak bisa diserap oleh tanaman padi, seperti yang dikatakan Kepala Bidang PLA dinas Pertanian Kabupaten Morowali. Masyarakat tidak butuh sekedar teori apalagi retorika belaka,bila pemerintah sudah mengetahui masalah tersebut,mengapa masih duduk manis sambil tersenyum dan berkicau dimedia massa tapi tak berbuat apa-apa. Atau pemerintah daerah dibawah kepemimpinan rezim Anwar Hapid sudah “tuli” dengan jeritan rakyatnya sehingga menunggu amuk massa terlebih dahulu lalu bertindak? Atau pemerintah kita sengaja membiarkan masalah ini berlarut-larut untuk dijadikan alat politik?
Kehadiran perusahaan tambang di Morowali seharusnya bisa membawa kesejahteraan sebagian besar penduduknya,namun hal itu tidak terlihat disini,hanya segelintir orang yang menikmati kesejahteraan di tanah yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya ini. Tengok saja peningkatan Ekonomi Kepala Desa yang berada diwilayah binaan perusahaan pertambangan, yang mengalami peningkatan kesejahteraan luar biasa dan drastic, bahkan baru beberapa bulan dilantik bisa membangun rumah yang mewah dan memiliki kendaraan roda empat. Inilah yang kemudian menjadi sorotan dan pertanyaan warga, dari manakah sumber kekayaan itu?
Beberapa Masyarakat yang menolak disebutkan namanya pada media ini menduga jika kepala desa Oneputejaya sudah menjadi “antek” dan “Anjing” perusahaan. “ Ada Fulus,urusan jadi lancar” begitulah istilah yang kini tenar ditengah masyarakat ,tak heran bila kekeyaan oknum aparat desa bisa meningkat drastic. Sehingga kepentingan perusahaan menjadi daftar prioritas yang paling utama dan teratas diatas kepentingan masyarakat itu sendiri.
“ Memang masyarakat mengeluhkan sawah mereka tercemar banjir lumpur yang sudah mencapai ketebalan 2 - 3 cm, namun saran saya jangan dulu lah meminta ganti rugi kepada pihak perusahaan, biarkan sawah atau ladang yang tercemar itu ditanami dulu, kalau gagal panen barulah kita menuntut ke pihak perusahaan untuk ganti rugi”, terang Jalam,Kades Oneputejaya.
Kepala desa juga mengatakan bila pencemaran saluran irigasi tersebut sudah dilaporkan secara tertulis kepada Badan pengelolaan lingkungan Daerah (Bapelda) Kabupaten Morowali, namun penyataan itu terbantahkan melalui Kepala Bapelda. Justru informasi ini baru didengarnya dari wartawan bungku pos yang hendak mengkonfirmasikan kebenaran laporan tersebut.
Pengakuan Masyarakat yang cukup menggegerkan dunia persilatan, mengatakan bila Kepala Desa Oneputejaya telah menerima uang sebesar Rp.200juta dari perusahaan PT.Sulawesi Resort (SR) dengan memperlihatkan sebuah kuitansi yang berisi pernyataan Kades Oneputejaya dan Kades Bahomotefe telah menerima dana tersebut atas nama pribadi Kepala desa bukan atas nama desa atau yang lainnya. Dalam kuitansi tertanggal 1 Februari 2012 yang ditanda tangani Kades Oneputejaya, Jalam, itu tertulis “ Bahwa Benar kami telah menerima uang dari pihak perusahaan (PT Sulawesi Resort-red) sebesar 300.000.000 (tiga ratus juta), 200.000.000 (dua ratus juta) untuk Oneputejaya dan 100.000.000 untuk Bahomotefe tapi itu diberikan untuk pribadinya perusahaan kepada Pak kades. Bukan lain-lain”.
“ Seandainya pemberian dari perusahaan itu ingin diperkarakan, seharusnya yang memberi juga mesti diperkarakan terlebih dahulu,memang Kepala desa dan Kaur-kaur Desa juga mendapatkan uang dari perusahaan namun nilainya berbeda-beda,tapi sama-sama merasakan, kalau Kepala desa sendiri dapat bantuan sebesar Rp.100juta dari SR itu pun untuk bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro yang saya kelolah”, akuinya.
PT Sulawesi Resort,melalui Rony Sitaba melalui telepon selulernya juga membenarkan telah memberi bantuan sebesar Rp.100juta kepada Kades Oneputejaya. “ Ia, Saya yang memberikan langsung kepada Kades Oneputejaya Rp.100 juta bukan Rp.200juta, itu untuk keperluan desa,tidak usahlah menanggapi isu-isu yang tidak benar”, terang Ronny.
Oh.. Desa Oneputejaya nasibmu kini, bagai anak ayam yang kehilangan induknya, tak tahu harus mengaduh kemana lagi.
Categories:
Catatan


