hRc coNnect

Sinopsis: Jules (Cameron Diaz) dan Evan (Matthew Morrison) tak mengira kalau persiapan menjadi orang tua bakal jadi serumit ini. Jules adalah seorang instruktur fitness di sebuah acara televisi sementara Evan adalah bintang acara dansa. Kehidupan mereka berdua sebagai selebriti ternyata tak memberi ruang untuk membangun rumah tangga. Menariknya, Jules dan Evan bukanlah satu-satunya pasangan yang mengalami masalah.

Wendy (Elizabeth Banks) adalah seorang penulis yang punya nilai-nilai sendiri tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Saat benar-benar hamil, barulah Wendy mulai mempertanyakan kriteria yang selama ini ia percaya. Di saat yang sama, suami Wendy harus memerangi rasa tidak percaya dirinya.

Holly (Jennifer Lopez) yang berprofesi sebagai seorang fotografer justru mengalami masalah yang berbeda. Karena selalu gagal hamil, Holly memutuskan untuk mengadopsi anak. Lagi-lagi ini jadi masalah karena Holly kesulitan menentukan pilihan, siapa yang akan ia adopsi. Yang semakin memperumit masalah, Alex (Rodrigo Santoro), suami Alex sepertinya masih belum ingin punya anak.
NB:
Ukuran File : 650MB; mkv
Resolution : 1280×536

DOWNLOAD

Subtitle :
- Download Subtitle Bahasa Indonesia
Read More …


Tanggal Rilis : 12 August 2010 (Thailand)
Jenis Film : Comedy | Romance
Diperankan Oleh : Pimchanok Leuwisetpaiboon, Mario Maurer and Acharanat Ariyaritwikol

    Ringkasan Cerita FILM Crazy Little Thing Called Love : Film ini bercerita tentang Nam (Pimchanok Luevisetpaibool) seorang siswi “buruk rupa” yang berusaha menarik perhatian cowok yang disukainya, bintang sekolah bernama Shone (Mario Maurer). Nam berusaha merubah penampilannya, memutihkan kulitnya yang hitam, melepas behel di giginya, mengikuti pertunjukan drama, berlatih marching band, semuanya ia lakukan demi merebut perhatian Shone. Tapi saat penampilannya telah berubah dari seorang ‘itik buruk rupa’ menjadi sosok ‘angsa yang cantik’, rupanya tidak membuat segalanya lebih mudah. Masih ada rivalnya di Sekolah, cewek paling cantikdan popular Pin, yang juga menyukai Shone, dan sahabat sejak kecil Shone, Top yang ternyata juga menaruh hati ke Nam sejak dulu.
Penasaran dengan kisahnya? Langsung Download Filmnya.. Klik disini
dan Untuk Subtitle Bahasa Indonesianya DISINI
Kalau ada kendala Comment aja dibawah, nanti Aku bantu.. 

NB : Ukuran File 400 MB
Read More …

Catatan : Heru Connect

Desa Onepute Jaya, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang mayoritas penduduknya berasal dari transmigrasi pulau jawa, Sawah yang menjadi penggerak ekonomi dan mata pencaharian utama didesa itu, kini mulai hilang. Lenyap tergerus air yang keruh dan mengandung lumpur akibat ulah perusahaan pertambangan yang mencemari saluran irigasi pertanian didesa tersebut. 

Ya, perusahaan itu disinyalir kuat bernama CV.Tridaya Jaya,perusahaan pertambangan yang berasal dari Makassar,Sulawesi Selatan, kini menjadi momok yang menakutkan seperti drakula sosok “setan” modern yang tenar di negeri paman sam, Amerika Serikat itu, memiliki sepasang taring tajam sebagai senjata penghisap darah yang mematikan. Keganasannya nyaris membuat ratusan hektar sawah di desa Oneputejaya terancam gagal panen. Sebab,irigasi satu-satunya yang mengairi desa Oneputejaya sudah tercemari,keruh berwarna kuning tua keemasan dan mengandung lumpur serta zat-zat yang tidak bisa diserap oleh tanaman padi. 

Memang perlu pembuktian secara ilmiah,terhadap kandungan zat-zat yang mencemari sawah itu, diperlukan tim ahli untuk mendeteksi kadar air, apakah mengandung unsure nikel,besi dan aluminium serta unsure lainnya yang tak bisa diserap oleh tanaman padi, seperti yang dikatakan Kepala Bidang PLA dinas Pertanian Kabupaten Morowali. Masyarakat tidak butuh sekedar teori apalagi retorika belaka,bila pemerintah sudah mengetahui masalah tersebut,mengapa masih duduk manis sambil tersenyum dan berkicau dimedia massa tapi tak berbuat apa-apa. Atau pemerintah daerah dibawah kepemimpinan rezim Anwar Hapid sudah “tuli” dengan jeritan rakyatnya sehingga menunggu amuk massa terlebih dahulu lalu bertindak? Atau pemerintah kita sengaja membiarkan masalah ini berlarut-larut untuk dijadikan alat politik? 

Kehadiran perusahaan tambang di Morowali seharusnya bisa membawa kesejahteraan sebagian besar penduduknya,namun hal itu tidak terlihat disini,hanya segelintir orang yang menikmati kesejahteraan di tanah yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya ini. Tengok saja peningkatan Ekonomi Kepala Desa yang berada diwilayah binaan perusahaan pertambangan, yang mengalami peningkatan kesejahteraan luar biasa dan drastic, bahkan baru beberapa bulan dilantik bisa membangun rumah yang mewah dan memiliki kendaraan roda empat. Inilah yang kemudian menjadi sorotan dan pertanyaan warga, dari manakah sumber kekayaan itu? 

Beberapa Masyarakat yang menolak disebutkan namanya pada media ini menduga jika kepala desa Oneputejaya sudah menjadi “antek” dan “Anjing” perusahaan. “ Ada Fulus,urusan jadi lancar” begitulah istilah yang kini tenar ditengah masyarakat ,tak heran bila kekeyaan oknum aparat desa bisa meningkat drastic. Sehingga kepentingan perusahaan menjadi daftar prioritas yang paling utama dan teratas diatas kepentingan masyarakat itu sendiri. 

“ Memang masyarakat mengeluhkan sawah mereka tercemar banjir lumpur yang sudah mencapai ketebalan 2 - 3 cm, namun saran saya jangan dulu lah meminta ganti rugi kepada pihak perusahaan, biarkan sawah atau ladang yang tercemar itu ditanami dulu, kalau gagal panen barulah kita menuntut ke pihak perusahaan untuk ganti rugi”, terang Jalam,Kades Oneputejaya. 

Kepala desa juga mengatakan bila pencemaran saluran irigasi tersebut sudah dilaporkan secara tertulis kepada Badan pengelolaan lingkungan Daerah (Bapelda) Kabupaten Morowali, namun penyataan itu terbantahkan melalui Kepala Bapelda. Justru informasi ini baru didengarnya dari wartawan bungku pos yang hendak mengkonfirmasikan kebenaran laporan tersebut. 

Pengakuan Masyarakat yang cukup menggegerkan dunia persilatan, mengatakan bila Kepala Desa Oneputejaya telah menerima uang sebesar Rp.200juta dari perusahaan PT.Sulawesi Resort (SR) dengan memperlihatkan sebuah kuitansi yang berisi pernyataan Kades Oneputejaya dan Kades Bahomotefe telah menerima dana tersebut atas nama pribadi Kepala desa bukan atas nama desa atau yang lainnya. Dalam kuitansi tertanggal 1 Februari 2012 yang ditanda tangani Kades Oneputejaya, Jalam, itu tertulis “ Bahwa Benar kami telah menerima uang dari pihak perusahaan (PT Sulawesi Resort-red) sebesar 300.000.000 (tiga ratus juta), 200.000.000 (dua ratus juta) untuk Oneputejaya dan 100.000.000 untuk Bahomotefe tapi itu diberikan untuk pribadinya perusahaan kepada Pak kades. Bukan lain-lain”. 

“ Seandainya pemberian dari perusahaan itu ingin diperkarakan, seharusnya yang memberi juga mesti diperkarakan terlebih dahulu,memang Kepala desa dan Kaur-kaur Desa juga mendapatkan uang dari perusahaan namun nilainya berbeda-beda,tapi sama-sama merasakan, kalau Kepala desa sendiri dapat bantuan sebesar Rp.100juta dari SR itu pun untuk bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro yang saya kelolah”, akuinya. 

PT Sulawesi Resort,melalui Rony Sitaba melalui telepon selulernya juga membenarkan telah memberi bantuan sebesar Rp.100juta kepada Kades Oneputejaya. “ Ia, Saya yang memberikan langsung kepada Kades Oneputejaya Rp.100 juta bukan Rp.200juta, itu untuk keperluan desa,tidak usahlah menanggapi isu-isu yang tidak benar”, terang Ronny. 

Oh.. Desa Oneputejaya nasibmu kini, bagai anak ayam yang kehilangan induknya, tak tahu harus mengaduh kemana lagi.
Read More …

Sudah berapa kali aku membuatmu menangis?
Ya, pastinya menangis versimu.

Sekarang pun masih sama. Sama seperti setiap kali aku berani menentang keputusanmu, dengan caraku. Kuhanya ingin engkau tahu, bukan sekedar ingin menguji kekuatanmu atau mengetes perhatianmu, karena aku bukan Tuhan. Tapi aku ingin engkau tahu, aku juga punya dunia yang ingin kuselamatkan.

Masih ingat bagaimana kisah-kisah kepahlawanan mengakhiri episodenya? Nah, begitulah yang sesungguhnya ingin kulakukan. Tapi belum apa-apa, engkau sudah habis tersayat-sayat dalam dunia yang kuciptakan. Tidakkah kau tahu, aku benar-benar sangat ingin menikmati hari tua bersamamu? Mencium Keningmu menjelang tidur lalu membukakan jendela kamar di saat fajar akan datang.

Tidak banyak yang kupunya memang, tapi segala yang ada pada diriku juga karena engkau yang telah menjadikannya ada. Hanya Tuhan saja yang tahu kedalaman cintaku. Maka bila hari ini kau merasa aku “kejam”, seharusnya aku lebih merasakannya. Tapi karena timbangan cinta itu, aku akan tetap menjaga bibirku mengucapkan. Maka, cobalah rasakan. Agar aku tidak perlu lagi mengucapnya.

Bagiku bahasa lisan tidak akan lebih berat dari suara qalbu. Itu pulalah sebab mengapa aku diam. Aku hanya ingin engkau mengerti. Biar kita berdua bicara dengan bahasa hati. Menikmati tangisan berdua, menikmati senyum berdua. Tapi hingga hari ini engkau masih saja mengutukku dengan doamu.

Aku bisa merasakan luka di hatimu. Tapi pernahkah engkau juga ingin melihat bagaimana lukaku? Mengapa kita tidak bicara berdua dan mengungkapkan segala hal yang selama ini menyekat dinding hati kita? Bukankah kita selalu bersama sepanjang rentang usia kita di setapak ini?

Ayolah, ini waktunya untuk pulang. Pulang kepada nurani kita yang tidak pernah berdusta. Saat wajah dan bibirmu mengatakan “benci”, benarkah itu perasaan yang sesungguhnya? Aku tidak pernah percaya itu, sampai engkau mengatakannya dengan segala energi yang ada di jiwa. Apakah setelah itu aku akan percaya? Tidak juga, karena aku selalu tahu bagaimana hatimu memeluk rasa itu.

Terima kasih, sudah kecewa padaku. Bukankah itu sikap jujur yang mengatakan “betapa kau sangat menyayangiku..”
Read More …

Detik telah berganti menjadi menit lalu jam dan menjadi hari lalu keminggu selanjutnya menjadi bulan. Aku masih di sini menanti sebuah jawaban. Jika bukan karena cinta tak mungkin aku dapat bertahan, menunggu sesuatu yang tak pasti. Hanya harapan dari sebuah janji yang keluar dari bibir yang manis sekali. Bagai mantra sihir yang mampu membuatku terpaku dan selalu berharap akan kehadirannya. Atas nama cinta dan kesetiaan begitu klasik memang, tapi itulah kebodohanku. Sebuah kebodohan yang menurutku lebih baik dari pada aku harus berkhianat. Dia adalah sosok seorang yang dapat aku banggakan. ia mempunyai semangat dan selalu optimis dengan hidup, tak ada yang disesali dalam hidupnya. Mungkin itu bentuk syukurnya, sikapnya yang selalu berpikir positif yang membuatku menjadi simpatik.

Hanya kekuatan hati dan keyakinan yang aku miliki, aku selalu berharap bahwa dia akan menungguku kembali dengan sebuah harapan yang sangat aku nantikan tentunya. Entah sampai kapan namun aku yakin suatu hari. Resahku, hampir setiap malam menemani tidurku, menemani sepinya yang berakhir dan berubah menjadi isak tangis yang Ia sendiri tidak tahu, kenapa Ia menangis. Terkadang terbesit untuk hengkang dari janji itu namun bisikan hati melarangku. Entah keterpaksan atau tidak, yang pasti aku merasa ini ketulusan.

“Kamu itu tolol,tak mungkinlah Ia disana Tak bersama dengan orang lain” begitu kata teman-temanku yang sering ku dengar.

“Memang, tapi aku tidak aku sangat yakin kepadanya” Jawabku .

“Memang kamu tahu, kalau di sana Ia setia? Hah?! Sit!” Lanjut mereka

“Aku gak tahu, namun aku tak berani untuk menuduhnya dengan pikiran-pikiran seperti itu yang akan mempengaruhi kepercayaanku” Jawabku

Memang beralasan nasehat teman-temanku, karena selama hampir 6 tahun Kami menjalin hubungan jarak jauh. “berjanjilah sayang untuk setia dan sabar menantiku, suatu hari aku akan datang menemui kamu lalu kita akan hidup bersama” begitu pesan terakhirku kepadanya.

......

5 tahun bukan waktu yang sebentar, harapan itu akhirnya datang juga, Aku pulang cuti lebaran lalu,Hampir setiap hariku bersama disuatu ruang tempat biasa Aku dan Dia duduk,bercerita tentang kehidupannya. Walaupun harus berbohong kepada orang tuanya sendiri setiap pertemuan kita,maklum Mamanya g setuju dengan hubungan kami berdua.

Sebulan sudah berlalu, akhirnya Aku harus kembali ditempat dimana aku menemukan jati diriku, walaupun singkat semua kisah yang kami lalui tak sedetikpun terlupakan olehku.

“Apa yang Aku lakukan disana.semuanya demi Kamu,tunggu Aku ” kata perpisahan terakhir yang terucap dariku.

Kini Dia Jauh Disana,ketika aku sedih,Masakan mie kari ayam yang dicampur telur menjadi makanan terlezat yang pernah Aku makan. Terkadang untuk mengingat rasa itu ku coba membuat masakan yang pernah disajikannya untukku namun rasanya tak seperti yang pernah disajikan olehnya. Menekan 12 digit angka telepon seluler mencoba menghubunginya dan menanyakan resep rahasia dibalik masakannya itu.

“Cinta dan sayang yang disajikan dengan senyuman resep rahasianya” begitu katanya.
Read More …

Pengakuan Dibalik Kasus Bunta Berdarah 

Peristiwa pembunuhan yang terjadi di lokasi tambang Emas di Desa Mumpe Kecamatan Simpang Raya, dan berimbas pada amuk massa di Puskesmas Bunta, masih menyisakan duka yang mendalam bagi masing-masing pihak. Wartawan koran ini berusaha untuk mencari jejak-jejak kronologis atas kejadian itu dari berbagai sumber. Keterangan dikumpulkan baik dari keluarga Nasarudin, maupun dari keluarga Habel, sebagai pihak yang menjadi korban dalam rangkaian kejadian itu. Penuturuan kedua belah pihak itu, dirangkai dalam laporan khusus redaksi Media Banggai berikut ini.

Laporan : heRu Nemo Hidayatullah


Pagi itu Sabtu (12/2), sekitar pukul 09.00 ratusan iring-iringan warga Desa SPD Saiti mengantarkan jenazah Nasaruddin, korban pembunuhan dilokasi tambang emas Desa Mumpe, dalam sebuah keranda mayat Nas_sapaan akrab Nasarudin, ditandu dari rumah menuju peristirahatan terakhirnya untuk dikebumikan dipemakanan umum di Desa Saiti. Nas yang meninggalkan seorang istri bersama 4 anak-anaknya, dikenal sebagai sosok ayah yang sabar. Bagi masyarakat, Nas adalah sosok yang yang pendiam dan baik.

Kronologis kejadian berawal ketika Nasarudin meninggalkan camp pada Kamis (9/2). Walau sudah dilarang oleh teman-temannya untuk tidak pergi sendiri di lokasi tambang emas, namun oleh Nasaruddin dijawab cuma ingin jalan-jalan dan mau lihat-lihat. 

Hingga menjelang malam, dari pihak keluarga mengabarkan Nas belum juga pulang ke rumahnya. Akhirnya pihak keluarga berinisiatif mencari malam itu juga.

Di TKP ditemukan tombak yang terbuat dari kayu dan bambu runcing dan setelah melihat adanya tetesan darah di tempat kejadian itu, kekwatiran kemungkinan Nasarudin mengalami luka membuat warga menghentikan pencariannya karena takut mengambil resiko. 

“ Barangnya masih ada, tembakau dan air minum juga masih ada. Namun peralatan menambangnya sudah tidak ada. Kemudian ada tetesan darah di tempat kejadian itu. Karena sudah malam, kami memutuskan pulang untuk menghidari resiko,” tutur Zakie, salah satu keluarga Nasarudin.

Karena belum bisa dipastikan apakah Nasarudin menjadi korban pembunuhan atau tidak, maka keluarga memutuskan untuk mencari kembali pada pagi hari.

Pada keesokan harinya, Jumat (13/2) pencarian dimulai dari camp untuk memastikan kemungkinan Nas kembali ke tempat menyimpan barang bawaannya. Namun kondisi barang masih utuh tidak ada tanda-tanda kalau Nas kembali ke camp itu. 

Setelah mencari-cari tidak jauh dari TKP, terdapat pondok Habel, orang yang dianggap telah melakukan pembunuhan terhadap Nasarudin. Sebelumnya, warga mengetahui Habel sudah sering melarang dan memarahi setiap warga untuk tidak mencari emas dilokasi itu, dengan alasan lokasi tersebut miliknya. 

Setelah bertemu dengan Habel, keluarga kemudian bertanya soal siapa pemilik lahan tersebut. Saat itu Habel menyebut lahan itu milik warga Mumpe. Saat itu, keluarga kemudian meminta Habel ikut bersama meerka untuk menemui Kepala Dusun yang memiliki wilayah di lokasi tambang tersebut.

Hanya saja, kecurigaan keluarga semakin ada karena Habel memberikan keterangan yang berbelit-belit. Keluarga kemudian mencurugai jika Habel mengetahui persis kejadian hilangnya Nasarudin. Karena memberikan keterangan yang berbelit-belit, keluarga yang dalam pencarian itu kemudian meminta Habel untuk tidak kemana-mana dan ikut serta dalam menemui kepala dusun, atau pemerintah Desa Mumpe lainnya.

Setelah berhasil menemui Kepala Dusun, warga dan keluarga yang dalam pencarian kemudian bersepakat untuk mencari keberadaan Nasarudin secara bersama-sama. Dan Kepala Dusun karena tidak mau mengambil resiko, kemudian meminta 5 orang warganya untuk menjaga Habel.

“Kita ini mau niat menyelesaikan masalah bukan untuk mencari masalah, apapun keadaan keluarga kami, entah mau hidup atau tidak, kami tidak permasalahkan, kami cuma mau mencari keluarga kami, cuma itu saja,” tutur Zakie. 

Hanya saja, keterangan demi keterangan yang dikumpulkan dari Habel, selalu berbelit-belit dan berbeda dari sebelumnya. 

Setelah dilakukan pencarian, maka ditemukanlah jenazah Nasaruddin yang tidak jauh dari TKP sekitar 50 meter dari pondok Habel. Saat itu, Habel langsung bereaksi seolah-olah ingin melarikan diri dan melawan. Karena Habel memiliki senjata tajam, warga yang ada sat itu kemudian berupaya untuk melepas senjata tajam itu dari tangannya. Zakie mengaku bila warga menghakimi Habel dengan tangan hingga babak belur, sebagai bentuk pelajaran supaya tidak berusaha melarikan diri.

“ Kami dari keluarga meminta jangan sampai dihilangkan nyawanya (Habel—red) karena kalau sampai Habel meninggal ditempat ini, maka akan jadi percuma karena keterangannya pasti dibutuhkan pihak kepolisian, sehingga warga lainnya bisa menahan diri”, tutur Zakie.

Setelah sampai di Desa Doda, pada sebuah sungai, Habel kemudian mengakui bila dialah yang melakukan pembunuhan tersebut. Menurutnya, ia tidak melakukan pembunuhan sendirian.
Usai mengantarkan Habel sampai di Desa Doda dengan tidak sadarkan diri, warga kemudian membawa jenasah Nasarudin ke Puskesma Bunta. 

Untuk diketahui kondisi Nasarudin ketika ditemukan sekitar pukul 16.00 wita, berada di sebuah lubang bekas galian tambang emas dan terkubur didalamnya. Waktu penggalian lubang tersebut, posisi Nasarudin dengan kaki terlipat kebelakang, organ tubuhnya keluar, tangannya luka robek kena benda tajam dan lehernya patah.

Keluarga Habel Membantah
Sementara itu, dari keluarga Habel ditemukan keterangan berbeda. Melalui Adrana Jihanga, Istri Habel menceritrakan bila waktu itu pukul 09.00 pagi, ia dan suaminya berada dipondok sedang mengerjakan lemari pesanan warga Mumpe.

Saat itu, sekitar 40 orang warga mendatangi mereka dan langsung melingkari suaminya, serta disuruh mengakui bila suaminya yang membunuh teman mereka. Walau Habel membantah tuduhan tersebut, warga kemudian membawa Habel untuk ikut bersama mereka.

“ Torang ini ada dirumah datanglah orang-orang ini, paling kurang 40 orang, begitu dorang datang langsung dorang lingkar sape laki sekitar jam 9,” tutur Adrana.

“Om mengaku saja kalau om yang ba bunuh kitorang pe taman, saya pelaki bilang terus terang saya tidak berbuat seperti itu, lalu dorang bilang om tidak usah banyak keterangan”, ungkap Adrana kepada awak media ini, Minggu (12/2) di kediamannya. 

Menurut Adriana, mereka lantas menyandra Habel, suaminya, untuk pergi ke Desa Mumpe, dan singgah disalah satu rumah milik Yosi. Ditempat itu, mereka mengeluarkan parang sambil melingkari Habel. 

“ Dorang so tare parang dorang lingkar ini Om, habis itu dorang suruh maituanya Yosi ba masak mie, abis makan, istrahat masih sempat saya pelaki bilang sama saya, ibu lebe bae ngana basambunyi, trus saya pe taman bilang kitorang pulang saja, akhirnya kitorang pulang bajalan di rumput-rumput, saya pelaki maunya dikawal sama kitorang pe tetangga di kebun, kan ada orang kampung dari pangkalan air. Tapi dorang tidak mau dikawal dengan kitorang pe tetangga, maunya dorang sandiri yang kawal,” ujar Adriana.

Menurut dia, suaminya mendapatkan perlakuan kasar. Disebuah gunung yang curam, suaminya dilemparkan dan terguling-guling hingga ke sungai.
“Dorang hela di aer, kase marayap di bawah pangkalan,” tuturnya.

Bahkan kata dia, ketika ia datang ditempat itu, ada orang yang meneriakinya. “So ini ibunya (istrinya-red) bunuh saja,” tutur Adriana. Hanya saja, kata dia, saat itu ada yang berteriak mengatakan “ibunya tidak ada masalah.” 

Adriana kemudian menuju Desa Gonohop. Sesampainya di rumah Kepala Desa Gonohop, Adriana lalu menceritakan kisahnya dan meminta Kades untuk membantu suaminya. Namun Kades dan warga tidak menghiraukan 

“ Sampai sama kades saya minta tolong, saya pe laki itu disana tinggal depe nyawa yang belum hilang, Orang disini tidak hiraukan saya pe omongan ini, bagaimana ini saya cuma disuruh masuk dirumahnya kades,” sesalnya.

Keluarga Habel menyayangkan sikap aparat kepolisian yang tidak langsung membawanya ke Luwuk untuk pengamanan. Bahkan mereka menuding aparat kepolisian membiarkan Habel tewas dibantai. Mereka meminta kepada pihak berwajib untuk mengusut tuntas kematian Habel. Keluraga korban bahkan mengancam kondisi tidak akan kondusif jika polisi tidak mengungkap kasus tersebut hingga terang benderang. 

“Yang disayangkan, polisi tidak langsung membawa ke Luwuk, ini dorang simpan di Bunta,” tandas keluarga Habel.

“Habel bukan pelakunya, polisi musti catat siapa yang melakukan pembunuhan Habel, Habel cuma tertuduh, kalau dia yang ba bunuh, dia pasti so melarikan diri. Yang jelas, keadaan tidak aman kalau kasus ini tidak tuntas “, tambah Arsadin Balahanti, kakak Habel.

Sementara itu Kades Gonohop Marthinus Sepanog, menjamin bila warganya tidak akan bertindak anarkis atau terpancing akan hal-hal bisa memicu konflik yang lebih luas. Ia meminta agar Polres Banggai bisa menambahkan personil keamanan di sektor Bunta, sebab dinilai jumlah aparat di Polsek Bunta masih kurang.

“ Kapolsek Bunta sudah cukup berusaha mengendalikan keamananan, hanya saja personil masih kurang, jadi kami meminta kepada Kapolres untuk menambahkan Personil,” ujarnya

Habel (50) warga Gonohop meninggalkan Istri dan 4 orang anak dan dimakamkan pada pukul 12, Sabtu (11/2) di Desa Gonohop. 

Seperti diberitakan sebelumnya, usai penyerangan di Puskesmas Bunta, Habel kemudian dilarikan ke RSUD Luwuk dengan kondisi tangan kanan dan kaki kirinya nyaris putus, serta mulut nyaris terbelah dibagian kanan dan kiri, setelah menerima hantaman benda tajam.

Hasil pemeriksaan Habel (50) yang dihimpun wartawan Media Banggai di Puskesmas Bunta, bahwa saat masuk Puskesmas dalam keadaan tidak sadarkan diri, luka robek pada pelipis kanan, alis kanan, kelopak mata bagian bawah sebelah kanan, perut bagian kanan dibawah rusuk ada lubang 7 x 7 cm. 

Bagaimanakah pengusutan dua kasus kematian warga ini, semuanya masih menunggu langkah kepolisian resort Banggai. Semua pihak berharap, polisi bisa bertindak sigap dan mempercepat proses pengusutan. Sementara berbagai pihak, diharap bisa menahan diri, dan para tokoh masyarakat mungkin memberi pemahaman soal proses hukum yang tengah berjalan. *
Read More …

Rekening Kasek Sempat Terblokir

Sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Banggai, terindikasi kuat “memainkan” dana Bansos Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SD Tahun 2011 senilai kurang lebih Rp.3 Miliar. Dana TIK yang digelontorkan Pemerintah Pusat itu seharusnya dikelola kepala sekola secara langsung. Tapi kenyataannya, justru di pihakketigakan. 
Sejumlah Kepala Sekolah yang enggan namanya dikorankan, mengatakan, pihak sekolah diarahkan untuk memesan barang kepada penyuplai barang yang telah ditunjuk pejabat Dikpora Banggai. Bahkan, sebagian Kepala Sekolah mengaku diintimidasi pejabat Dikpora dengan ancaman mutasi bila enggan mematuhi “petunjuk” Dikpora. 
Tidak itu saja, guna memuluskan rencana mengarahkan barang kepada rekanan yang telah ditunjuk, pejabat Dinas Dikpora Banggai bahkan disebut memblokir rekening penerima bantuan tersebut. Dari 100 sekolah penerima bantuan, 54 sekolah sudah bisa mencairkan dananya setelah mengirimkan surat permohonan bernomor :2686/DIKSAD-900/DIK/2011 tertanggal 30 Desember 2011 yang ditujukan kepada Pimpinan Cabang PT.BRI (persero) Luwuk dan ditandatangani Kepala Dinas Dikpora Banggai. Permohonan pembukaan blokir rekening kepala sekolah berikutnya dilakukan pada Januari 2012 untuk 29 sekolah. Dan 12 Sekolah dilaporkan tidak menerima bantuan tersebut karena ada kesalahan rekening. 
Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Effie Zuleha Mile, yang ditemui diruang kerjanya bersama 2 rekanan dari Palu, membantah tudingan tersebut. Menurutnya, tidak benar jika ia mengarahkan apa lagi menakut-nakuti kepala sekolah untuk dimutasi. Bahkan Ia justru balik menuding bila hal itu dilakukan Kepala sekolah untuk menilep dana bantuan tersebut. “Itu hanya pemikiran dari Kepala Sekolah yang memang menginginkan dia mau kemanakan duitnya ini,” tudingnya.
Soal pemblokiran rekening tersebut, kata Effie, semata-mata dilakukannya demi keamanan untuk menjaga uang itu agar tidak disalahgunakan oleh oknum kepala sekolah penerima bantuan yang tidak bertanggungjawab. “Saya menjaga, jangan sampai misalkan tidak diblok Kepala Sekolah sudah tahu dananya ada disitu, barang belum ada lalu uangnya diambil. Setan ini banyak dimana-mana, jadi ini bukan intervensi, kalau ada barangnya silahkan ambil,” kilahnya. 
Effie saat ditemui awak Media Banggai kemarin, tampak ditemani pihak rekanan. Rifay, selaku rekanan dari CV Darma Bakti, Palu, juga membantah tudingan bila Dinas Dikpora mengintervensi sekolah dan mengarahkan agar pengadaan barang tersebut ke perusahaannya. Rifai mengaku, sejumlah barang untuk proyek TIK tersebut memang dititip dirumah Kepala Bidang Dikdas itu. Dalihnya, Rifai ingin barang tersebut aman sebab dirinya masih orang baru yang tidak mengetahui banyak tentang wilayah Luwuk. “Saya termasuk orang baru di Luwuk, hanya beberapa kali saja di sini, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saya titip di rumahnya (Effie –red),” ucap Rifai yang mengaku berdomisili di Palu. 
Untuk diketahui CV Darma Bakti yang merupakan rekanan penyedia proyek TIK SD untuk 40 lebih sekolah di Kabupaten Banggai mengaku bila Ia tidak mengenal Kepala Sekolah yang akan memesan barang kepadanya. Namun di jelaskannya bila kedatangannya untuk menawarkan barang sebagaimana hubungan pembeli dengan penjual. “Kami menawarkan barang waktu sosialisasi di Palu kepada para kepala sekolah calon penerima bantuan tersebut,” akunya.
Bahkan Ia menyoroti ada beberapa rekanan mungkin belum punya bakat dalam pengadaan barang. Apalagi jika bicara soal deadline waktu selama 60 hari sejak turunnya dana sejak 20 November 2011 hingga 20 Januari 2012. Bisa jadi, ada sekolah yang belum menerima barang dikarenakan belum professional. “Kalau mau klarifikasi seharusnya sama mereka (Tiga Serangkai-red) kenapa hingga deadline waktu barangnya belum ada disekolah-sekolah yang ditangani rekanan itu,” saran Rifai. “Kemungkinan sejumlah sekolah yang masih diblok rekeningnya disebabkan belum diterimanya barang yang diadakan oleh rekanan lainnya dalam hal ini Tiga Serangkai, sebab hingga kini pihak TS belum ada laporan ke Saya untuk membuka Blok rekening sekolah tersebut,” timpal Effie. 
Secara terpisah, pihak Tiga Serangkai yang ditemui di Kantornya menuturkan bila sebanyak 27 sekolah yang ditanganinya sudah 100 persen menerima barang tersebut. Dan hingga saat ini baru 6 sekolah yang sudah melunasinya. Sisanya sebanyak 21 sekolah belum melunasinya sebab rekening mereka masih diblokir oleh Bank atas perintah dinas terkait. Menurut pejabat Tiga Serangkai, disamping telah mendistribusikan bantuan itu sesuai dan sudah memenuhi semua spesifikasi barang yang tertuang dalam Pedoman Bansos Peningkatan Mutu pembelajaran Teknologi dan Informasi SD Tahun 2011, pihaknya bahkan menambahkan Mouse walaupun dalam juknis tidak disebutkan. Bahkan, mereka mendatangkan tenaga ahli dari Jakarta khusus untuk melatih para pengguna barang tersebut. 
Terkait tudingan dari Kepala Bidang Dikdas yang tidak menemuinya guna melaporkan kegiatannya disekolah-sekolah yang ditanganinya, Ia mengatakan bila kepala sekolah selaku pengguna anggaran hanya berhubungan langsung dengan pihak rekanan yang ditunjuknya. “untuk apa kita ketemu dengan kepala bidang dikdas, sementara kepala sekolah selaku pengguna anggaran. Jadi kita hanya berhubungan dengan kepala sekolah, karena bantuan ini adalah swakelola, lagi pula bila kita harus koordinasi lagi di dinas terkait nanti dimintakan fee lagi,” katanya.
Sementara itu, sejumlah kepala sekolah yang ditemui di Dinas Dikpora Kabupaten Banggai usai mengikuti sosialisai UN, mengaku bila mereka tidak pernah bertemu apa lagi ditawarkan oleh pihak CV Darma Bakti ketika mengikuti sosialisasi di Palu. heRu

Sumber : Harian Media Banggai, Edisi 046, Rabu, 25 Januari 2012


EFFIE MENGAKU TERIMA SURAT KEJARI

Dugaan adanya indikasi kuat pejabat di Dinas Dikpora Kabupaten Banggai yang “memainkan” dana Bansos Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SD Tahun 2011 senilai kurang lebih Rp.3 Miliar, makin lucu saja. Apalagi disebut-sebut ada upaya pemblokiran rekening kepala sekolah sebagai pengguna anggaran. Setelah sebelumnya, pejabat di Dinas Dikpora Kabupaten Banggai dan rekanan CV Darma Bakti, Palu, sama-sama membantah tudingan tersebut, kali ini, pejabat Dikpora Banggai mengaku telah menerima surat dari pihak Kejaksaan Negeri Luwuk. “Saya sayangkan ini sudah ke Kejaksaan. Sekarang ada surat dari kejaksaan,” ujar Effie Mile, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dikpora Banggai, diruang kerjanya, kemarin. 
Ditempat terpisah, Kasi Intel melalui Budi Muhclis, membantah bila pihaknya sudah melayangkan surat panggilan kepada Effie Zuleha Mile, Kabid Dikdas Dikpora Banggai. Menurutnya, informasi soal dana TIK itu justru baru diketahuinya melalui media. “Kami baru tahu masalah ini dari media, jadi coba cek sama Ibu Effie surat panggilan dari Kejaksaan siapa yang tandatangan,” saran Budi.
Pemblokiran rekening yang dilakukan Dinas Dikpora Kabupaten Banggai bisa saja menyalahi prosedur. Sebab, menurut Budi, bila penguna anggaran adalah Kepala Sekolah maka Dinas Dikpora tidak punya wewenang memblokir rekening tanpa izin dari pengguna anggaran. Bila demikian, maka bank juga patut disalahkan karena melanggar aturan perbankan. 
Soal pemblokiran rekening sekolah penerima bantuan tersebut akhirnya kembali dibuka. Itu setelah Dinas Dikpora Banggai menyurati bank perihal pembukaan blokir yang ditandatangani Kepala Dinas terkait, Syamsurijal Poma dan ditujukan ke Kepala BRI (persero) Cabang Luwuk, permohonan pertama tertanggal 30 Desember 2011, sebanyak 54 sekolah dan pembukaan blokir 29 sekolah berikutnya pada Januari 2012 serta 12 Sekolah yang dilaporkan tidak menerima bantuan tersebut karena adanya kesalahan rekening. “Saya sudah menanyakan ke Direktorat, terkait 12 rekening tersebut, kata mereka uangnya masih ada, hanya saja masih ada kesalahan rekening, sehingga belum ditransfer dananya,” terang Effie Zuleha Mile, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Dikpora Kabupaten Banggai, Rabu (25/1) diruang kerjanya. 
Sementara itu, Kepala Inspektorat Kabupaten Banggai, Samuel Kepeng, ketika dikonfirmasi terkait masalah tersebut justru bengong. Samuel sepertinya tidak tahu apa-apa soal dana Bantuan Sosial TIK SD 2011 itu. Kepala Inspektorat Banggai itu justru balik menanyakan dan mencatat informasi tersebut kepada wartawan yang mau melakukan klarifikasi terkait masalah tersebut.*heRu

Sumber : Harian Media Banggai, Edisi 048, jumat, 27 Januari 2012
Read More …

Pembangunan sarana dan prasaran pendidikan di Kabupaten Morowali sepertinya berjalan lambat dan masih jauh dari harapan, banyaknya Gedung sekolah yang masih kurang dan butuh perhatian serius dari pemerintah daerah adalah potret buram dunia pendidikan didaerah ini. 

Di SDN 1 Bunta misalnya, Ruang Kegiatan Belajar (RKB) sangat minim. Hanya ada 4 RKB yang layak digunakan untuk siswa. Sedangkan sisanya perpustakaan sekolah pun “disulap” menjadi ruang kelas, hanya tripleks yang menjadi pemisah antara kelas 1 dan 2 itu. 

Sebenarnya disekolah itu, masih ada ruangan yang kosong. Ada 3 RKB,hanya saja kondisinya sangat memiluhkan dan sudah tidak layak lagi digunakan. Atap-atap,plafon sudah bocor, dinding kelasnya pun sudah rusak parah sangat membahayakan nyawa anak-anak sekolah bila masih digunakan. 

Demi mengejar jam efektif sekolah, beberapa bulan lalu ruangan itu masih digunakan sebagai tempat belajar mengajar, hanya saja mendapat teguran dari KUPT dinas Pendidikan Daerah bahwa ruangan itu seperti “kandang kambing” yang tak layak dan sangat membahayakan keselamatan anak didik. 

“KUPT memang bilang bongkar saja demi keselamatan anak-anak tapi karena keperluan sekolah untuk mengejar jam efektif sekolah terpaksa masih kami gunakan beberapa bulan lalu”, terang Kepala SDN 1 Bunta, R. Nggaluku belum lama ini. 

Janji mendapatkan bantuan dari dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali pun sudah diterima pihak sekolah, hal itu dikuatkan dengan dipanggilnya Kepala Sekolah menghadiri Sosisalisasi beberapa waktu lalu. 

“ Kami para kepala sekolah yang akan mendapatkan bantuan DAK untuk pembangunan RKB Baru sudah diundang untuk sosialisasi oleh dinas terkait beberapa waktu lalu, katanya kami yang diundang sudah pasti mendapakan bantuan itu”, tambahnya. 

Namun hingga hari ini, nama-nama sekolah yang akan menerima bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) belum juga dirilis dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali dengan alasan masih memilah-milih sekolah yang menerima dana Block grant dengan penerima DAK agar tidak terjadi tumpang tindih. Itu artinya,janji dinas terkait akan kepastian sekolah penerima yang digembor-gemborkan kepala sekolah yang mengikuti sosialisasi masih belum pasti menerima bantuan DAK 2012. 

Sementara di SDN 2 Bunta, juga kondisinya sangat memprihatinkan, 3 RKB berbuat dari papan, beratap daun rumbiah dan lantainya pun masih beralas tanah, hanya gambar upin dan ipin serta tokoh kartun anak-anak lainnya didinding luar bangunan itu yang membuatnya nampak indah dipandang mata, bangunan itu sendiri adalah hasil dari swadaya masyarakat setempat agar anak-anak mereka bisa mengenyam bangku pendidikan di desa yang memiliki kultur budaya dan agama yang beragam itu. Meski bangunan-bangunan itu tak kokoh lagi, namun Ia adalah saksi bisu segelintir potret buram pendidikan ditanah Morowali ini yang hingga kini masih ada dan tak dilirik oleh pemerintah daerah.
Read More …

Comment Facebook

Top Menu

Pict