Detik telah berganti menjadi menit lalu jam dan menjadi hari lalu keminggu selanjutnya menjadi bulan. Aku masih di sini menanti sebuah jawaban. Jika bukan karena cinta tak mungkin aku dapat bertahan, menunggu sesuatu yang tak pasti. Hanya harapan dari sebuah janji yang keluar dari bibir yang manis sekali. Bagai mantra sihir yang mampu membuatku terpaku dan selalu berharap akan kehadirannya. Atas nama cinta dan kesetiaan begitu klasik memang, tapi itulah kebodohanku. Sebuah kebodohan yang menurutku lebih baik dari pada aku harus berkhianat. Dia adalah sosok seorang yang dapat aku banggakan. ia mempunyai semangat dan selalu optimis dengan hidup, tak ada yang disesali dalam hidupnya. Mungkin itu bentuk syukurnya, sikapnya yang selalu berpikir positif yang membuatku menjadi simpatik.
Hanya kekuatan hati dan keyakinan yang aku miliki, aku selalu berharap bahwa dia akan menungguku kembali dengan sebuah harapan yang sangat aku nantikan tentunya. Entah sampai kapan namun aku yakin suatu hari. Resahku, hampir setiap malam menemani tidurku, menemani sepinya yang berakhir dan berubah menjadi isak tangis yang Ia sendiri tidak tahu, kenapa Ia menangis. Terkadang terbesit untuk hengkang dari janji itu namun bisikan hati melarangku. Entah keterpaksan atau tidak, yang pasti aku merasa ini ketulusan.
“Kamu itu tolol,tak mungkinlah Ia disana Tak bersama dengan orang lain” begitu kata teman-temanku yang sering ku dengar.
“Memang, tapi aku tidak aku sangat yakin kepadanya” Jawabku .
“Memang kamu tahu, kalau di sana Ia setia? Hah?! Sit!” Lanjut mereka
“Aku gak tahu, namun aku tak berani untuk menuduhnya dengan pikiran-pikiran seperti itu yang akan mempengaruhi kepercayaanku” Jawabku
Memang beralasan nasehat teman-temanku, karena selama hampir 6 tahun Kami menjalin hubungan jarak jauh. “berjanjilah sayang untuk setia dan sabar menantiku, suatu hari aku akan datang menemui kamu lalu kita akan hidup bersama” begitu pesan terakhirku kepadanya.
......
5 tahun bukan waktu yang sebentar, harapan itu akhirnya datang juga, Aku pulang cuti lebaran lalu,Hampir setiap hariku bersama disuatu ruang tempat biasa Aku dan Dia duduk,bercerita tentang kehidupannya. Walaupun harus berbohong kepada orang tuanya sendiri setiap pertemuan kita,maklum Mamanya g setuju dengan hubungan kami berdua.
Sebulan sudah berlalu, akhirnya Aku harus kembali ditempat dimana aku menemukan jati diriku, walaupun singkat semua kisah yang kami lalui tak sedetikpun terlupakan olehku.
“Apa yang Aku lakukan disana.semuanya demi Kamu,tunggu Aku ” kata perpisahan terakhir yang terucap dariku.
Kini Dia Jauh Disana,ketika aku sedih,Masakan mie kari ayam yang dicampur telur menjadi makanan terlezat yang pernah Aku makan. Terkadang untuk mengingat rasa itu ku coba membuat masakan yang pernah disajikannya untukku namun rasanya tak seperti yang pernah disajikan olehnya. Menekan 12 digit angka telepon seluler mencoba menghubunginya dan menanyakan resep rahasia dibalik masakannya itu.
“Cinta dan sayang yang disajikan dengan senyuman resep rahasianya” begitu katanya.
Hanya kekuatan hati dan keyakinan yang aku miliki, aku selalu berharap bahwa dia akan menungguku kembali dengan sebuah harapan yang sangat aku nantikan tentunya. Entah sampai kapan namun aku yakin suatu hari. Resahku, hampir setiap malam menemani tidurku, menemani sepinya yang berakhir dan berubah menjadi isak tangis yang Ia sendiri tidak tahu, kenapa Ia menangis. Terkadang terbesit untuk hengkang dari janji itu namun bisikan hati melarangku. Entah keterpaksan atau tidak, yang pasti aku merasa ini ketulusan.
“Kamu itu tolol,tak mungkinlah Ia disana Tak bersama dengan orang lain” begitu kata teman-temanku yang sering ku dengar.
“Memang, tapi aku tidak aku sangat yakin kepadanya” Jawabku .
“Memang kamu tahu, kalau di sana Ia setia? Hah?! Sit!” Lanjut mereka
“Aku gak tahu, namun aku tak berani untuk menuduhnya dengan pikiran-pikiran seperti itu yang akan mempengaruhi kepercayaanku” Jawabku
Memang beralasan nasehat teman-temanku, karena selama hampir 6 tahun Kami menjalin hubungan jarak jauh. “berjanjilah sayang untuk setia dan sabar menantiku, suatu hari aku akan datang menemui kamu lalu kita akan hidup bersama” begitu pesan terakhirku kepadanya.
......
5 tahun bukan waktu yang sebentar, harapan itu akhirnya datang juga, Aku pulang cuti lebaran lalu,Hampir setiap hariku bersama disuatu ruang tempat biasa Aku dan Dia duduk,bercerita tentang kehidupannya. Walaupun harus berbohong kepada orang tuanya sendiri setiap pertemuan kita,maklum Mamanya g setuju dengan hubungan kami berdua.
Sebulan sudah berlalu, akhirnya Aku harus kembali ditempat dimana aku menemukan jati diriku, walaupun singkat semua kisah yang kami lalui tak sedetikpun terlupakan olehku.
“Apa yang Aku lakukan disana.semuanya demi Kamu,tunggu Aku ” kata perpisahan terakhir yang terucap dariku.
Kini Dia Jauh Disana,ketika aku sedih,Masakan mie kari ayam yang dicampur telur menjadi makanan terlezat yang pernah Aku makan. Terkadang untuk mengingat rasa itu ku coba membuat masakan yang pernah disajikannya untukku namun rasanya tak seperti yang pernah disajikan olehnya. Menekan 12 digit angka telepon seluler mencoba menghubunginya dan menanyakan resep rahasia dibalik masakannya itu.
“Cinta dan sayang yang disajikan dengan senyuman resep rahasianya” begitu katanya.
Categories:
Catatan

